Februari 22, 2009

10 Things to Do Before I Die

Terinspirasi dari sebuah buku dengan judul yang sama dengan judul post ini, entah kenapa saya ingin membuat list sendiri. Buku yang saya baca sebenarnya masuk genre teen-lit, tapi isinya cowo banget karena tokoh utamanya adalah laki-laki yang akan meninggal akibat keracunan kentang goreng. Penuh petualangan seru, lucu, dan mengharukan.

Jadi, ini daftar saya sendiri:

1. Tato Omkara di punggung
2. Punya rambut gimbal (entah karena menggimbal sendiri atau minta digimbalin sama teman)
3. Nonton Radiohead dan Damien Rice live.
4. Naik kereta layang di Ancol atau TMII.
5. Berkunjung ke Himalaya dan Nepal.
6. Menanam padi di sawah keluarga di Bali.
7. Membuat batik.
8. Ikut Upacara Kasodo di Bromo
9. Menikah
10. Melihat sekali lagi (dan terakhir kali) aurora borealis.

Daftar saya sudah saya tulis, sekarang giliran kamu menulisnya.

Februari 20, 2009

Kadang Hal Baik Datang Setelah Hal Buruk Tiba

Paman saya keras hati luar biasa. Mudah marah, penuh emosi. Tidak cukup hanya membentak dan marah-marah secara verbal, beliau tidak segan-segan membanting barang apapun yang ada di dekatnya. Tidak tanggung-tanggung, radio besar dan TV pernah dibanting hingga rusak.

Sampai suatu hari, anak bungsunya (sepupu saya) yang laki-laki dan juga sama kerasnya seperti paman saya, bertengkar dengan beliau. Adegan pertengkaran mereka sebenarnya adalah hal yang biasa terjadi. Hanya kali ini, pertengkaran sudah kelewat batas.

Tidak perlu saya ceritakan panjang lebar, intinya sepupu saya kali ini sama sekali tidak mau mengalah dan malah makin meledak-ledak emosinya. Paman saya yang tidak menyangka anaknya akan sebegitunya berani melawan bapaknya sendiri akhirnya
shock. Di tengah pertengkaran yang benar-benar sengit, paman saya tiba-tiba seperti orang sesak nafas dan memegang dada-nya.

Seluruh keluarga besar panik, termasuk si lawan bertengkar paman saya. Mereka buru-buru menghampiri paman saya yang tidak bisa bernafas. Saat dipanggil-panggil namanya, paman saya malah kehilangan kesadaran. Sepupu saya pun mulai menangis sambil terus memanggil-manggil bapaknya dengan perasaan bersalah.

Akhirnya, paman saya pun dibawa ke rumah sakit dan harus dirawat inap. Dokter berkata paman saya terkena stroke. Paman saya pun mendapatkan perawatan intensif dalam waktu yang lama. Untungnya, jenis stroke ringan. Beberapa tahun setelah kejadian, saya datang berkunjung dan paman saya tampak segar bugar sama seperti sebelum dia kena stroke.

Tapi ada satu hal yang berubah. Sejak kejadian itu, baik paman saya maupun sepupu saya yang sama-sama emosian itu, mulai menjaga hati. Paman saya sudah sangat jarang marah-marah apalagi sampai membanting barang. Kalau pun marah hanya bentakan kecil. Begitu juga dengan sepupu saya. Hal yang asing terjadi sebenarnya.

Beberapa hari yang lalu Ibu saya berkomentar mengenai adegan yang terjadi bertahun-tahun silam itu:
"Kasihan ya sampai stroke gitu"

Saya pun menimpali:
"Kalau dia gak kena stroke, sampai sekarang bakal masih terus marah-marah gak jelas dan membanting-banting barang seenaknya"

Ibu saya balas menyahut:
"Tapi kan masuk rumah sakit segala, jadi
riweh"

Saya hanya menjawab:
"Kadang hal baik datang setelah hal buruk terjadi"

Ibu saya terdiam dan mengangguk setuju.

Februari 08, 2009

Aroma di Tengah Hujan

Di luar tetes hujan semakin membesar, memecah di tanah dengan bunyi gemerisik. Jendela kamar saya tepat menghadap ke jalan. Segala bunyi, aroma, bahkan orang yang lewat pun dapat saya ketahui.

Aroma tanah dan debu yang tertimpa air hujan mulai masuk ke rongga hidung. Tapi ada aroma lain yang menggoda masuk ke dalam hidung dan berlanjut ke otak bagian penyimpan memori: aroma asap rokok.

Saya tidak bisa melihat asap rokok yang membumbung maupun orang yang mengisap rokok itu. Namun, aroma tembakau bercampur cengkeh menyelusup, membawa saya ke sebuah adegan bertahun-tahun yang lalu. Saya tersenyum kecil mengingatnya, hanya sebuah kenangan sederhana yang mungkin tidak penting untuk diceritakan.

Begitulah otak manusia, hanya dengan selintasan aroma saja telah mampu membawa jiwa ke dunia yang lain, entah sebuah kesedihan atau kesenangan. Sederhana tapi kuat...