Februari 20, 2009

Kadang Hal Baik Datang Setelah Hal Buruk Tiba

Paman saya keras hati luar biasa. Mudah marah, penuh emosi. Tidak cukup hanya membentak dan marah-marah secara verbal, beliau tidak segan-segan membanting barang apapun yang ada di dekatnya. Tidak tanggung-tanggung, radio besar dan TV pernah dibanting hingga rusak.

Sampai suatu hari, anak bungsunya (sepupu saya) yang laki-laki dan juga sama kerasnya seperti paman saya, bertengkar dengan beliau. Adegan pertengkaran mereka sebenarnya adalah hal yang biasa terjadi. Hanya kali ini, pertengkaran sudah kelewat batas.

Tidak perlu saya ceritakan panjang lebar, intinya sepupu saya kali ini sama sekali tidak mau mengalah dan malah makin meledak-ledak emosinya. Paman saya yang tidak menyangka anaknya akan sebegitunya berani melawan bapaknya sendiri akhirnya
shock. Di tengah pertengkaran yang benar-benar sengit, paman saya tiba-tiba seperti orang sesak nafas dan memegang dada-nya.

Seluruh keluarga besar panik, termasuk si lawan bertengkar paman saya. Mereka buru-buru menghampiri paman saya yang tidak bisa bernafas. Saat dipanggil-panggil namanya, paman saya malah kehilangan kesadaran. Sepupu saya pun mulai menangis sambil terus memanggil-manggil bapaknya dengan perasaan bersalah.

Akhirnya, paman saya pun dibawa ke rumah sakit dan harus dirawat inap. Dokter berkata paman saya terkena stroke. Paman saya pun mendapatkan perawatan intensif dalam waktu yang lama. Untungnya, jenis stroke ringan. Beberapa tahun setelah kejadian, saya datang berkunjung dan paman saya tampak segar bugar sama seperti sebelum dia kena stroke.

Tapi ada satu hal yang berubah. Sejak kejadian itu, baik paman saya maupun sepupu saya yang sama-sama emosian itu, mulai menjaga hati. Paman saya sudah sangat jarang marah-marah apalagi sampai membanting barang. Kalau pun marah hanya bentakan kecil. Begitu juga dengan sepupu saya. Hal yang asing terjadi sebenarnya.

Beberapa hari yang lalu Ibu saya berkomentar mengenai adegan yang terjadi bertahun-tahun silam itu:
"Kasihan ya sampai stroke gitu"

Saya pun menimpali:
"Kalau dia gak kena stroke, sampai sekarang bakal masih terus marah-marah gak jelas dan membanting-banting barang seenaknya"

Ibu saya balas menyahut:
"Tapi kan masuk rumah sakit segala, jadi
riweh"

Saya hanya menjawab:
"Kadang hal baik datang setelah hal buruk terjadi"

Ibu saya terdiam dan mengangguk setuju.

2 komentar:

the grumpy blogger mengatakan...

you're so damn right.

rinaldi mengatakan...

iya dek, di keluarga gw juga ada yang baikan setelah ada yang meninggal, eh blog lu enak banget deh dibacanya!!