Juni 07, 2009

Sualalita*

Di saat manusia semakin menjauh dari mimpinya, entah disadari atau tidak disadari makin melenceng dari jalur yang mengarahnya ke mimpi, Tuhan hadir dengan berbagai pertanda.

Beberapa hari ini, saya seperti diberikan petunjuk. Mula-mula saya tidak ngeh, tapi lama-kelamaan saya merasa Tuhan sedang berbicara pada saya. Seperti sedang membangunkan saya dari tidur yang enak.

Ketika tersadar, saya pun merasa sedih bercampur bahagia. Sedih, karena bagaimana mungkin saya bermalas-malasan tanpa usaha mengejar mimpi dan bahagia karena Tuhan masih menuntun saya.

Saya jadi teringat seorang teman yang bertanya bagaimana cara menangkap dan membaca pertanda dari Tuhan. Saat itu saya hanya bisa berkata: Mintalah, maka kau akan diberi. Menangkap dan membaca pertanda adalah sesuatu yang intim dan personal hingga susah dijelaskan. Sama halnya saat kita jatuh cinta, kita tidak akan bisa menjelaskan mengapa kita bisa jatuh cinta.

Mintalah untuk diberi kemampuan memahami bahasa alam, mengenal sebuah pertanda, dan memaknainya. Tapi, satu hal yang pasti, pertanda seringkali merupakan hal-hal kecil yang malah bagi orang lain dianggap sepele. Yang mengerti hanya hati sendiri.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

* Sualalita = pertanda
sua = manusia
lali - lupa
ta = Tuhan
('manusia lupa karena itu dingatkan Tuhan' - berasal dari bahasa sanskrit)


Februari 22, 2009

10 Things to Do Before I Die

Terinspirasi dari sebuah buku dengan judul yang sama dengan judul post ini, entah kenapa saya ingin membuat list sendiri. Buku yang saya baca sebenarnya masuk genre teen-lit, tapi isinya cowo banget karena tokoh utamanya adalah laki-laki yang akan meninggal akibat keracunan kentang goreng. Penuh petualangan seru, lucu, dan mengharukan.

Jadi, ini daftar saya sendiri:

1. Tato Omkara di punggung
2. Punya rambut gimbal (entah karena menggimbal sendiri atau minta digimbalin sama teman)
3. Nonton Radiohead dan Damien Rice live.
4. Naik kereta layang di Ancol atau TMII.
5. Berkunjung ke Himalaya dan Nepal.
6. Menanam padi di sawah keluarga di Bali.
7. Membuat batik.
8. Ikut upacara kasodo di Bromo
9. Menikah
10. Melihat sekali lagi (dan terakhir kali) aurora borealis.

Daftar saya sudah saya tulis, sekarang giliran kamu menulisnya.

Februari 20, 2009

Kadang Hal Baik Datang Setelah Hal Buruk Tiba

Paman saya keras hati luar biasa. Mudah marah, penuh emosi. Tidak cukup hanya membentak dan marah-marah secara verbal, beliau tidak segan-segan membanting barang apapun yang ada di dekatnya. Tidak tanggung-tanggung, radio besar dan TV pernah dibanting hingga rusak.

Sampai suatu hari, anak bungsunya (sepupu saya) yang laki-laki dan juga sama kerasnya seperti paman saya, bertengkar dengan beliau. Adegan pertengkaran mereka sebenarnya adalah hal yang biasa terjadi. Hanya kali ini, pertengkaran sudah kelewat batas.

Tidak perlu saya ceritakan panjang lebar, intinya sepupu saya kali ini sama sekali tidak mau mengalah dan malah makin meledak-ledak emosinya. Paman saya yang tidak menyangka anaknya akan sebegitunya berani melawan bapaknya sendiri akhirnya
shock. Di tengah pertengkaran yang benar-benar sengit, paman saya tiba-tiba seperti orang sesak nafas dan memegang dada-nya.

Seluruh keluarga besar panik, termasuk si lawan bertengkar paman saya. Mereka buru-buru menghampiri paman saya yang tidak bisa bernafas. Saat dipanggil-panggil namanya, paman saya malah kehilangan kesadaran. Sepupu saya pun mulai menangis sambil terus memanggil-manggil bapaknya dengan perasaan bersalah.

Akhirnya, paman saya pun dibawa ke rumah sakit dan harus dirawat inap. Dokter berkata paman saya terkena stroke. Paman saya pun mendapatkan perawatan intensif dalam waktu yang lama. Untungnya, jenis stroke ringan. Beberapa tahun setelah kejadian, saya datang berkunjung dan paman saya tampak segar bugar sama seperti sebelum dia kena stroke.

Tapi ada satu hal yang berubah. Sejak kejadian itu, baik paman saya maupun sepupu saya yang sama-sama emosian itu, mulai menjaga hati. Paman saya sudah sangat jarang marah-marah apalagi sampai membanting barang. Kalau pun marah hanya bentakan kecil. Begitu juga dengan sepupu saya. Hal yang asing terjadi sebenarnya.

Beberapa hari yang lalu Ibu saya berkomentar mengenai adegan yang terjadi bertahun-tahun silam itu:
"Kasihan ya sampai stroke gitu"

Saya pun menimpali:
"Kalau dia gak kena stroke, sampai sekarang bakal masih terus marah-marah gak jelas dan membanting-banting barang seenaknya"

Ibu saya balas menyahut:
"Tapi kan masuk rumah sakit segala, jadi
riweh"

Saya hanya menjawab:
"Kadang hal baik datang setelah hal buruk terjadi"

Ibu saya terdiam dan mengangguk setuju.

Februari 08, 2009

Aroma di Tengah Hujan

Di luar tetes hujan semakin membesar, memecah di tanah dengan bunyi gemerisik. Jendela kamar saya tepat menghadap ke jalan. Segala bunyi, aroma, bahkan orang yang lewat pun dapat saya ketahui.

Aroma tanah dan debu yang tertimpa air hujan mulai masuk ke rongga hidung. Tapi ada aroma lain yang menggoda masuk ke dalam hidung dan berlanjut ke otak bagian penyimpan memori: aroma asap rokok.

Saya tidak bisa melihat asap rokok yang membumbung maupun orang yang mengisap rokok itu. Namun, aroma tembakau bercampur cengkeh menyelusup, membawa saya ke sebuah adegan bertahun-tahun yang lalu. Saya tersenyum kecil mengingatnya, hanya sebuah kenangan sederhana yang mungkin tidak penting untuk diceritakan.

Begitulah otak manusia, hanya dengan selintasan aroma saja telah mampu membawa jiwa ke dunia yang lain, entah sebuah kesedihan atau kesenangan. Sederhana tapi kuat...

Desember 24, 2008

Kangen Natal

Masuk ke dalam mal dekat kantor: bergema lagu-lagu yang biasa hadir menjelang Natal, hiasan pohon Natal lengkap dengan lonceng dan malaikat kecil, salju-salju imitasi, warna-warni merah-hijau-emas, membuat saya berpikir.

Kepada seorang teman yang ikut, saya pun berkata:

"Di Indonesia, Natal cuma berasa di mal ya?"
Teman saya hanya menganggukan kepala.


Malamnya, teman saya di Medan kirim SMS:
"Dek, gue Natal balik ke Jakarta, kalau mau lu datang aja ke rumah, makan-makan"

Besoknya, teman saya yang sedang tugas di Papua meng-ym saya:
"Dek, Merry Xmas!"

Hari ini, teman SD saya berkata:
"Met Natal, Dear. Jadi ingat waktu kita SD dulu ya."

Natal ada di hati, teman-teman saya yang mengingatkan.


Oktober 06, 2008

Sepotong Mimpi Yang Jadi Nyata

Kenangan masa kecil ada di depan mata. Sebuah benda yang sudah diidam-idamkan sejak dulu. Saat bocah, entah berapa kali selalu terlintas di kepala, "Kapan aku akan memilikinya?". Meminta pada orang tua tentu susah. Membeli sendiri tidak mampu.

Rasa bahagia menerjang tubuh, begitu nikmat. Menatap, mengamati, mencoba. Tak bosan-bosan. Rasanya seperti mimpi. Kalau kata-kata puitis nan klise, "Jangan bangunkan aku jika ini mimpi."

Benda itu nyata, kupegang dan kusentuh. Berwarna biru dan tampak seperti mainan.

Kini, instant camera Fujifilm Instax 200 menjadi milikku. Senangnya...

September 21, 2008

Pilihan dan Nasib

Akhir-akhir ini, entah mengapa, beberapa kata berputar-putar di kepala, hingga membentuk sebuah kalimat:

"Pilihanku adalah nasibku"...

Jalan apa yang kamu pilih akan menjadi nasibmu. Memang saya di tengah persimpangan jalan dan cepat atau lambat saya harus memilih.

Saya tidak pernah percaya takdir. Nasib adalah pilihan yang kita tempuh dan jalani. Saya tidak pernah percaya istilah pilihan yang baik dan pilihan yang buruk. Terdengar arogan? Biarlah ^^

Orang Atheis Adalah Orang Yang Selalu Ingat Tuhan

Judul di atas diucapkan teman dekat saat kami masih kuliah. Entah sudah beberapa tahun silam. Sebuah kalimat yang menyindir saya dan membuat saya merenung.

Alasannya simpel, menjadi atheis di lingkungan mayoritas theis (terutama negara-negara seperti Indonesia), tentu saja tidak mudah. Di kala seseorang bertahan dengan persepsi dirinya di tengah terjangan pemikiran normal dan pada umumnya, tentu membuat dia kembali berpikir ulang mengenai persepsinya itu.

Orang atheis akan terus menanyakan eksistensi Tuhan di kala orang-orang kebanyakan menerima keberadaan-Nya dengan pasrah alias taken for granted. Karena doktrinasi sejak kecil membuat keberadaan Tuhan sebagai sesuatu yang umum dan bukan hal yang asing.

Berbeda dengan orang atheis yang hidup di lingkungan theis, akan selalu berusaha mencari pembenaran dari pemikirannya dan jawaban untuk pertanyaan paling utama dalam otaknya, "Kenapa orang bisa percaya kalau Tuhan itu ada?" bukan pertanyaan, "Apakah Tuhan itu ada?".

Di saat seseorang akan menjadi atheis, pertanyaan kedua yang akan terus melingkar di kepala. Tapi orang atheis yang hidup di kalangan theis, akan lebih sering bertanya mengapa lingkungan sekitar mempercayai-Nya.

Saat dia bertanya dengan orang theis atau orang theis melontarkan pertanyaan mengenai sikapnya yang atheist, pikiran akan kembali ke satu topik: TUHAN.

Pada akhirnya, orang atheist lah yang sering memikirkan Tuhan, dan membawanya untuk selalu mengingat Tuhan.

Sayatan di Pergelangan Tangan

Seorang teman nekat mengiris pergelangan tangannya sendiri. Satu.... dua kali.... lalu jadi keseringan. Menatap darah pekat yang mengalir pelan.

Saat itu, dia menunjukkan pergelangan tangannya yang biasanya selalu tertutup jam tangan ukuran besar. Tampak dengan jelas bekas sayatan-sayatan.

"Aku ingin menyayatnya sekarang," sahutnya lirih tanpa beban.

"Jangan pernah loe berani ngelakuin itu di depan mata gue," jawab saya menahan marah.

"Lagian gak ada yang peduli, Dek"

"Jadi loe anggap gue apaan? Sampah?!"

Teman saya terdiam. Memasang kembali jam tangannya dan menatap saya lama.

Saya pernah bertemu dengan beberapa orang yang memiliki kecenderungan yang sama dengan teman saya itu. Mereka menyayat pergelangan tangan dengan tenang, meresapi perasaan saat darah mengalir keluar. Dan, saat sakit mulai merayap, dia akan sadar bahwa dia hidup dan ada

Hanya itu, bukan untuk bunuh diri dan mati. Tapi sebaliknya, untuk merasa hidup...


September 17, 2008

Sahur - Makan Siang - Buka Puasa

Di bulan puasa, selepas jam 6 sore, jalanan begitu lengang. Biasanya, jam segitulah neraka macet dimulai.

Gde berceloteh pada supir taksi yang membawa kami pulang. Celotehan betapa indahnya jika jalanan Jakarta bisa selalu lowong seperti ini. Sebenarnya macet tetap ada, hanya berpindah waktu saja. Selama bulan puasa, macet berpesta di jam 4 sore. Tapi, buat saya yang tiap hari pulang kantor jam 6 sore, tentu saja jalanan bagaikan permadani indah nan mulus.

Gde kemudian berkomentar tentang karakter manusia Jakarta yang berlomba-lomba pulang cepat demi buka puasa bersama di rumah. Mendengar pernyataan Gde itu, supir taksi pun menyahut dengan cueknya:

“Ah, warung-warung kalau jam makan siang tetap rame tuh. Orang Jakarta sih sahur iya, makan siang juga iya. Nanti pas buka puasa, juga ikut makan, sambil bilang ‘Aduh lapar nih’, padahal dia udah makan siang.”

Saya dan Gde pun hanya tertawa. Terlintas di kepala, ucapan teman saya:

“Duh, kok jatah gak puasa gue belum datang-datang juga ya?”

Jatah gak puasa maksudnya datang bulan. Saya hanya diam. Tapi dalam hati bertanya, “Jadi sebenarnya apa niatmu dalam berpuasa?”